Search This Blog

Thursday, 1 October 2015

Ilmu Menghilang Versi Polinela

Sunday, 9 August 2015

<a href="http://www.linkreferral.com/adwel.pl?oldrefid=428185"><img src="http://www.linkreferral.com/images/linkreferal/linkbutton.gif" border="0" alt="free web site traffic and promotion" width="114" height="32"></a>

Sunday, 10 August 2014

Konsep Penjernih Air RUCEF



Air merupakan sumber daya alam yang melimpah, dapat ditemukan disetiap tempat di permukaan bumi, air juga merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan dibutuhkan setiap mahluk hidup. Bagi manusia kebutuhan air amat mutlak, hampir semua aktifitas manusia memerlukan air (Saparuddin, 2010).
Dalam kaitannya dengan kebutuhan rumah tangga, manusia membutuhkan air untuk minum, makan, mandi dan cuci. Dan air yang dibutuhkan untuk kegiatan ini seharusnya adalah air yang bersih.
Harus disadari bahwa pemenuhan kebutuhan air bersih saat ini semakin terbatas, karena penurunan kualitas maupun kuantitas air di lingkungan yang menyebabkan air menjadi kotor, tercemar dan mengandung racun atau sumber penyakit. Data terkini yang ada, ternyata hanya sekitar 45% saja rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih, dan nilai prosentase ini semakin mengecil jika cakupannya adalah wilayah pedesaan (Direktorat Perumahan dan Permukiman, 2011).
Keterbatasan akses dan pelayanan air bersih di wilayah pedesaan ini, sering kali memaksa penduduk desa setempat menggunakan air seadanya yang bersumber dari sungai, telaga, waduk, tampungan air hujan atau sumur-sumur dangkal, yang terkadang keruh, berbau, mempunyai citra rasa tertentu bahkan tercemar oleh bakteri Escherichia coli (E.coli) dengan ambang melebihi batas yang diperkenankan bagi syarat air bersih.
Menghadapi kondisi seperti ini, dibutuhkan suatu teknologi praktis untuk menjernihkan air dengan konsep teknologi yang mudah, murah dan sedapat mungkin untuk mendayagunakan bahan-bahan yang ada disekeliling kita.
Secara umum masyarakat pedesaan dengan tingkat pendidikan yang rendah dan keterbatasan penghasilannya memerlukan sentuhan teknologi yang tidak mahal, tidak memerlukan pengetahuan yang khusus dalam pembuatannya serta tidak merepotkan dalam hal perawatannya.
Konsep Re Use, Cheap, Easy and Flexible”, adalah sebuah gagasan yang akan menarik perhatian masyarakat pedesan dalam bentuk teknologi apapun, termasuk juga jika diterapkan dalam hal teknologi penjernihan air.
Model teknologi penjernihan air, bukan hal baru yang dikenal di masyarakat pedesaan. Beberapa teknologi penjernihan air sederhanapun sudah diperkenalkan dan diterapkan diberbagai pelosok pedesaan. Sebut saja misalnya model penjernihan air dengan sistem saringan pasir lambat, saringan pasir cepat, saringan arang, saringan krikil atau teknologi yang terbaru yang diperkenalkan oleh Soelidarmi dengan Alat Penjernih Air Tanpa Mesin (APATM) pada tahun .
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, bahwa masing-masing dari metode yang telah disebutkan dibagian atas, masih memerlukan penyempurnaan dalam aplikasi desainnya, terutama dalam hal kemudahan pencucian material penyaring sebagai bagian dari konsekuensi perawatan yang harus dilakukan.
Secara umum teknologi penjernih air sederhana yang sudah diperkenalkan sebelumnya, mengusung konsep penyusunan material penyaring yang ditempatkan dalam satu wadah secara berurutan (layer per layer), sehingga ketika terjadi penyumbatan dan proses pencucian material penyaring harus dilakukan, maka kegiatan pencucian ini harus dilakukan dengan membongkar semua material penyaringnya yang terletak dalam wadah yang sama tersebut. Selain itu material filter yang disusun dalam wadah dibiarkan terbuka untuk kontak langsung dengan air baku yang akan disaring, sehingga pengendapan material terlarut menjadi lebih besar yang akibatnya akan membuat media filter cepat tersumbat dan pencucian media filter ini harus lebih sering dilakukan. 
Melihat hal tersebut diatas, maka kami berupaya untuk menghasilkan sebuah konsep rancang bangun teknologi sederhana penjernih air yang berpegang pada konsep “Re Use, Cheap, Easy and Flexible” dengan menggunakan wadah dari bahan bekas, kemudian memberikan perlakuan pemisahan masing-masing material penyaringnya dengan wadah yang terpisah-pisah, memberi perlakuan covered pada inti filter dengan memasukannya kedalam botol plastik bekas sehingga memberikan waktu tenggat untuk kontak langsung bahan baku air dengan media filter sehingga memberikan kesempatan pengendapan pada wadah ember bukan pada media filternya. Dengan analogi ini diharapkan proses pencucian media filter lebih minimal dilakukan dibandingkan dengan teknologi penjernih air yang sudah diciptakan sebelumnya. 




Thursday, 27 December 2012

Friday, 18 March 2011

TESIS


The Impact Of Land Cover Alterations To Reservoir Sedimentation Transport 


ABSTRACT


Sediment deposition is the main problem affecting the reservoir. It may have significant impacts and may reduce reservoir life time.
Most of sediment in reservoir originated from watershed erosion. The eroded material transported from the watershed to the land coarse by overland flow.
The amount of sediment inflow to reservoir depends on the amount of sediment yield produced by upstream watershed. Many factors that determined the amount of sediment yield, one of them is ground cover that may change rapidly by human being activities.
This study analyzed the impact of ground cover alteration to the reservoir sedimentation rate in Way Rarem Reservoir for periode of 1992 - 2005. It’s located at Way Rarem river system Kabupaten Lampung Utara.
The result show that, the reduction of forest  were 38,98% in 1992-2005. This change has increased erosion rate from 41,79 ton/ha/th in 1992 to 111,43 ton/ha/th in 2005. Consequently reservoir sedimentation rate was also increased from 592,91 m3/km2/th in 1992 to 1.943,37 m3/km2/th  in 2005. Because of that, the life time of reservoir was reduced from the proposed 60 years to 31 years.
To extend the life time of reservoir, conservation of the catchments area have to be implemented. The most realistic scenario with deforestation and mechanical conservation concepts as terrace, gulud etc may extend the life time of reservoir to  40 years.



Keyword          :Reservoir Sedimentation, Way Rarem


Thursday, 17 March 2011

Bab 2 Buku Ajar RAB

BAB II.   RANCANGAN PENYUSUNAN RAB


2.1           Skema Pembuatan RAB


Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa sebuah RAB disusun berdasarkan analisa pada masing-masing komponen penyusunnya, yaitu (komponen upah, material, bahan dan komponen lainnya yang mungkin berupa profit, overhead dan pajak).
Pengumpulan data-data yang berhubungan dangan harga dasar satuan upah, material dan alat, merupakan langkah awal dalam menyusun sebuah RAB. Selain itu sebuah RAB disusun sesuai dengan besaran volume masing-masing item pekerjaan yang terkandung dalam pelaksanaan sebuah proyek konstruksi.
Dasar untuk indentifikasi volume pekerjaaan adalah gambar kerja dan Rencana Kerja dan Syarat (RKS) yang dijadikan dokumen tender sebagai pedoman penyusunan nilai penawaran dalam bentuk RAB.
Untuk memahami konsep sebuah Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek, maka berikut disajikan diagram alir skema penyusunan sebuah RAB, seperti yang dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Skema Penyusunan RAB


2.2           Konsep Struktur Tabel Dalam RAB


Konsep tabel dalam pembuatan Rencana Anggara Biaya (RAB) Proyek dibuat sedemikian hingga menjadi sebuah sistem tabel yang terstruktur dan terhubung satu satu tabel dengan tabel lainnya. Tabel RAB dibuat dalam FILE EXCEL, dalam beberapa SHEET yang saling terkoneksi mulai dari Sheet Harga Dasar Satuan, Sheet Analisa Harga Sewa Peralatan, Sheet Analisa Koefisien Material, Upah dan Peralatan, Sheet Analisa Harga Satuan Pekerjaan, Sheet Anggaran Biaya, Sheet Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Adapun untuk memberikan gambaran kepada pembaca buku ini, berikut diberikan contoh bentuk tabel yang harus disiapkan dalam pembuatan RAB.Tabel-tabel yang dimaksud adalah:


Tabel 2.1. Harga Dasar Satuan Upah

(Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)

Tabel 2.1. Harga Dasar Satuan Material

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)

Tabel 2.3. Harga Dasar Satuan Sewa Peralatan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)


Tabel 2.3. Harga Analisa Sewa Peralatan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)

Tabel 2.5. Analisa Koefisien Satuan Material, Upah dan Peralatan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)


Tabel 2.6. Analisa Harga Satuan Pekerjaan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)


Tabel 2.7. Anggaran Biaya Pekerjaan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)


Tabel 2.8. Rekap Anggaran Biaya Pekerjaan


Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)

2.3           Langkah-Langkah Membuat RAB


Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam membuat Rencana Anggara Biaya meliputi:
1.       Hitung Volume Pekerjaan
Volume pekerjaan dapat dihitung dengan melihat gambar kerja yang sudah dibuat sebelumnya. Perhitungan volume dapat menggunakan rumus matematika sederhana sesuai dengan jenis pekerjaan yang ada dalam perencanaan.
2.       Analisis Jenis Pekerjaan
Jenis-jenis pekerjaan dalam rencana pembangunan memerlukan material dan upah pekerjaan yang tidak sama satu dengan yang lain. Untuk itulah diperlukan analisis jenis pekerjaan sesuai dengan spesifikasi pekerjaan di dalamnya. Analisis pekerjaan dipakai untuk menentukan harga satuan pekerjaan yang digunakan dalam perhitungan RAB.
3.       Estimasi Biaya Secara Keseluruhan
Menghitung esitmasi biaya secara keseluruhan setelah volume pekerjaan dihitung dan analisis jenis pekerjaan serta harga satuan upah dan material. Harga satuan upah dan material dapat diperoleh dengan survey lapangan di pasaran atau berkonsultasi pada konsultan/kontraktor untuk mendapatkan harga yang tepat.