Search This Blog
Thursday, 1 October 2015
Thursday, 10 September 2015
KUMPULAN EbOOK Teknik SIPIL
b. J. A. Mukomoko, Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan, 1994
c. Ir. A. Sudrajad Sastratmadja, Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan, 1984
d. Zainal A.Z., Menghitung Anggaran Biaya Bangunan, 2005
1. RENCANA ANGGARAN BIAYA
a. Bachtiar Ibrahim (Rencana dan Estimate Real of Cost, 2001)b. J. A. Mukomoko, Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan, 1994
c. Ir. A. Sudrajad Sastratmadja, Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan, 1984
d. Zainal A.Z., Menghitung Anggaran Biaya Bangunan, 2005
Saturday, 5 September 2015
Sunday, 30 August 2015
Saturday, 22 August 2015
Thursday, 20 August 2015
Tuesday, 18 August 2015
Sunday, 9 August 2015
Saturday, 8 August 2015
Sunday, 10 August 2014
Konsep Penjernih Air RUCEF
Air merupakan sumber daya alam yang melimpah,
dapat ditemukan disetiap tempat di permukaan bumi, air juga merupakan sumber
daya alam yang sangat penting dan dibutuhkan setiap mahluk hidup. Bagi manusia
kebutuhan air amat mutlak, hampir semua aktifitas manusia memerlukan air
(Saparuddin, 2010).
Dalam kaitannya dengan kebutuhan rumah tangga, manusia
membutuhkan air untuk minum, makan, mandi dan cuci. Dan air yang dibutuhkan
untuk kegiatan ini seharusnya adalah air yang bersih.
Harus disadari bahwa pemenuhan kebutuhan air
bersih saat ini semakin terbatas, karena penurunan kualitas maupun kuantitas
air di lingkungan yang menyebabkan air menjadi kotor, tercemar dan mengandung racun atau
sumber penyakit. Data terkini
yang ada, ternyata hanya sekitar 45% saja rumah tangga yang memiliki akses
terhadap air bersih, dan nilai prosentase ini semakin mengecil jika cakupannya
adalah wilayah pedesaan (Direktorat Perumahan dan Permukiman, 2011).
Keterbatasan akses dan pelayanan air bersih di
wilayah pedesaan ini, sering kali memaksa penduduk desa setempat menggunakan
air seadanya yang bersumber dari sungai, telaga, waduk, tampungan air hujan
atau sumur-sumur dangkal, yang terkadang keruh, berbau, mempunyai citra rasa
tertentu bahkan tercemar oleh bakteri Escherichia
coli (E.coli) dengan ambang melebihi batas yang diperkenankan bagi syarat air
bersih.
Menghadapi kondisi seperti ini, dibutuhkan suatu
teknologi praktis untuk menjernihkan air dengan konsep teknologi yang mudah,
murah dan sedapat mungkin untuk mendayagunakan bahan-bahan yang ada
disekeliling kita.
Secara umum masyarakat pedesaan dengan tingkat
pendidikan yang rendah dan keterbatasan penghasilannya memerlukan sentuhan
teknologi yang tidak mahal, tidak memerlukan pengetahuan yang khusus dalam pembuatannya
serta tidak merepotkan dalam hal perawatannya.
Konsep “Re
Use, Cheap, Easy and Flexible”, adalah sebuah gagasan yang akan menarik
perhatian masyarakat pedesan dalam bentuk teknologi apapun, termasuk juga jika
diterapkan dalam hal teknologi penjernihan air.
Model teknologi penjernihan air, bukan hal baru
yang dikenal di masyarakat pedesaan. Beberapa teknologi penjernihan air
sederhanapun sudah diperkenalkan dan diterapkan diberbagai pelosok pedesaan. Sebut
saja misalnya model penjernihan air dengan sistem saringan pasir lambat,
saringan pasir cepat, saringan arang, saringan krikil atau teknologi yang
terbaru yang diperkenalkan oleh Soelidarmi dengan Alat Penjernih Air Tanpa
Mesin (APATM) pada tahun .
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, bahwa
masing-masing dari metode yang telah disebutkan dibagian atas, masih memerlukan
penyempurnaan dalam aplikasi desainnya, terutama dalam hal kemudahan pencucian
material penyaring sebagai bagian dari konsekuensi perawatan yang harus
dilakukan.
Secara umum teknologi penjernih air sederhana yang
sudah diperkenalkan sebelumnya, mengusung konsep penyusunan material penyaring yang
ditempatkan dalam satu wadah secara berurutan (layer per layer), sehingga
ketika terjadi penyumbatan dan proses pencucian material penyaring harus
dilakukan, maka kegiatan pencucian ini harus dilakukan dengan membongkar semua material
penyaringnya yang terletak dalam wadah yang sama tersebut. Selain itu material
filter yang disusun dalam wadah dibiarkan terbuka untuk kontak langsung dengan
air baku yang akan disaring, sehingga pengendapan material terlarut menjadi
lebih besar yang akibatnya akan membuat media filter cepat tersumbat dan
pencucian media filter ini harus lebih sering dilakukan.
Melihat hal tersebut diatas, maka kami berupaya
untuk menghasilkan sebuah konsep rancang bangun teknologi sederhana penjernih
air yang berpegang pada konsep “Re Use,
Cheap, Easy and Flexible” dengan menggunakan wadah dari bahan bekas,
kemudian memberikan perlakuan pemisahan masing-masing material penyaringnya
dengan wadah yang terpisah-pisah, memberi perlakuan covered pada inti filter dengan memasukannya kedalam botol plastik
bekas sehingga memberikan waktu tenggat untuk kontak langsung bahan baku air dengan
media filter sehingga memberikan kesempatan pengendapan pada wadah ember bukan
pada media filternya. Dengan analogi ini diharapkan proses pencucian media
filter lebih minimal dilakukan dibandingkan dengan teknologi penjernih air yang
sudah diciptakan sebelumnya.
Thursday, 27 December 2012
Tuesday, 10 April 2012
Saturday, 15 October 2011
Tuesday, 9 August 2011
Wednesday, 20 April 2011
Friday, 18 March 2011
TESIS
ABSTRACT
Sediment deposition is the main problem affecting the reservoir. It may have significant impacts and may reduce reservoir life time.
Most of sediment in reservoir originated from watershed erosion. The eroded material transported from the watershed to the land coarse by overland flow.
The amount of sediment inflow to reservoir depends on the amount of sediment yield produced by upstream watershed. Many factors that determined the amount of sediment yield, one of them is ground cover that may change rapidly by human being activities.
This study analyzed the impact of ground cover alteration to the reservoir sedimentation rate in Way Rarem Reservoir for periode of 1992 - 2005. It’s located at Way Rarem river system Kabupaten Lampung Utara.
The result show that, the reduction of forest were 38,98% in 1992-2005. This change has increased erosion rate from 41,79 ton/ha/th in 1992 to 111,43 ton/ha/th in 2005. Consequently reservoir sedimentation rate was also increased from 592,91 m3/km2/th in 1992 to 1.943,37 m3/km2/th in 2005. Because of that, the life time of reservoir was reduced from the proposed 60 years to 31 years.
To extend the life time of reservoir, conservation of the catchments area have to be implemented. The most realistic scenario with deforestation and mechanical conservation concepts as terrace, gulud etc may extend the life time of reservoir to 40 years.
Keyword :Reservoir Sedimentation, Way Rarem
Thursday, 17 March 2011
Bab 2 Buku Ajar RAB
BAB II. RANCANGAN PENYUSUNAN RAB
2.1 Skema Pembuatan RAB
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa sebuah RAB disusun berdasarkan analisa pada masing-masing komponen penyusunnya, yaitu (komponen upah, material, bahan dan komponen lainnya yang mungkin berupa profit, overhead dan pajak).
Pengumpulan data-data yang berhubungan dangan harga dasar satuan upah, material dan alat, merupakan langkah awal dalam menyusun sebuah RAB. Selain itu sebuah RAB disusun sesuai dengan besaran volume masing-masing item pekerjaan yang terkandung dalam pelaksanaan sebuah proyek konstruksi.
Dasar untuk indentifikasi volume pekerjaaan adalah gambar kerja dan Rencana Kerja dan Syarat (RKS) yang dijadikan dokumen tender sebagai pedoman penyusunan nilai penawaran dalam bentuk RAB.
Untuk memahami konsep sebuah Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek, maka berikut disajikan diagram alir skema penyusunan sebuah RAB, seperti yang dapat dilihat pada gambar 2.1.
Gambar 2.1 Skema Penyusunan RAB
2.2 Konsep Struktur Tabel Dalam RAB
Konsep tabel dalam pembuatan Rencana Anggara Biaya (RAB) Proyek dibuat sedemikian hingga menjadi sebuah sistem tabel yang terstruktur dan terhubung satu satu tabel dengan tabel lainnya. Tabel RAB dibuat dalam FILE EXCEL, dalam beberapa SHEET yang saling terkoneksi mulai dari Sheet Harga Dasar Satuan, Sheet Analisa Harga Sewa Peralatan, Sheet Analisa Koefisien Material, Upah dan Peralatan, Sheet Analisa Harga Satuan Pekerjaan, Sheet Anggaran Biaya, Sheet Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Adapun untuk memberikan gambaran kepada pembaca buku ini, berikut diberikan contoh bentuk tabel yang harus disiapkan dalam pembuatan RAB.Tabel-tabel yang dimaksud adalah:
Tabel 2.1. Harga Dasar Satuan Upah

(Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)
Tabel 2.1. Harga Dasar Satuan Material

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)
Tabel 2.3. Harga Dasar Satuan Sewa Peralatan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)
Tabel 2.3. Harga Analisa Sewa Peralatan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)
Tabel 2.5. Analisa Koefisien Satuan Material, Upah dan Peralatan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)
Tabel 2.6. Analisa Harga Satuan Pekerjaan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)
Tabel 2.7. Anggaran Biaya Pekerjaan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)
Tabel 2.8. Rekap Anggaran Biaya Pekerjaan

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Tahun 2003)
2.3 Langkah-Langkah Membuat RAB
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam membuat Rencana Anggara Biaya meliputi:
1. Hitung Volume Pekerjaan
Volume pekerjaan dapat dihitung dengan melihat gambar kerja yang sudah dibuat sebelumnya. Perhitungan volume dapat menggunakan rumus matematika sederhana sesuai dengan jenis pekerjaan yang ada dalam perencanaan.
2. Analisis Jenis Pekerjaan
Jenis-jenis pekerjaan dalam rencana pembangunan memerlukan material dan upah pekerjaan yang tidak sama satu dengan yang lain. Untuk itulah diperlukan analisis jenis pekerjaan sesuai dengan spesifikasi pekerjaan di dalamnya. Analisis pekerjaan dipakai untuk menentukan harga satuan pekerjaan yang digunakan dalam perhitungan RAB.
Menghitung esitmasi biaya secara keseluruhan setelah volume pekerjaan dihitung dan analisis jenis pekerjaan serta harga satuan upah dan material. Harga satuan upah dan material dapat diperoleh dengan survey lapangan di pasaran atau berkonsultasi pada konsultan/kontraktor untuk mendapatkan harga yang tepat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
















